Tuesday, September 24, 2013

Makna yang Terkandung dalam Kaligrafi

0 comments

Makna yang Terkandung dalam Kaligrafi

Salah satu gejala penting sepanjang sejarah persebaran kebudayaan Arab di seluruh permukaan bumi ialah pemunculan kaligrafi Arab yang sangat kuat dalam lingkungan kebudayaan. Hal ini dapat ditemukan pada berbagai wilayah, dengan berbagai versi, dan dengan aneka cara penerapan. Gejala kaligrafi tersebut bersamaan dengan unsur-unsur lain peradaban menghantarkan kebudayaan Arab menjadi suatu yang tidak asing bagi masyarakat setempat. Di Indonesia, gejala itu telah muncul sejak masa yang sangat awal dan selanjutnya terlihat pada hampir setiap objek, baik yang berkaitan langsung dengan keilmuan seperti perangkat tulis baca maupun pada benda dan bangunan yang menunjang peribadatan. Bahkan, kaligrafi telah dijadikan sebagai simbol diri seperti tanda tangan, dan subject matter yang menyertai berbagai ornamen yang terpahat pada batu nisan.

Islamic Caligraphy
Islamic Caligraphy
Eksistensi kaligrafi yang kuat itu, pada penghujung abad ke-20, diperluas pula dengan kehadirannya dalam khazanah kesenirupaan kontemporer sehingga menjadikan unsur kebudayaan Arab yang satu ini memperoleh jalan perkembangan dan masa depan yang baru. Kaligrafi Arab, dalam konteks kesenirupaan telah merebut apresian yang cukup luas sehingga dipelihara, terutama oleh masyarakat pengguna aksara bersangkutan, yang pada umumnya adalah kaum muslimin. Akan tetapi, agar tidak berhenti di tengah jalan, gejala positif ini perlu ditopang oleh dukungan yang melibatkan berbagai pihak secara komprehensif.

Makna dan Arti Penting Kaligrafi

Kaligrafi adalah istilah yang berasal dari kata kalio dan graphia dalam bahasa Yunani, yang secara umum diartikan sebagai tulisan yang indah. Dalam bahasa Inggris kaligrafi disebut sebagai calligraphy, sedangkan dalam bahasa Arab lebih dikenal dengan sebutan khath. Dalam lingkungan kebudayaan, kaligrafi dapat disoroti melalui dua aspek, yaitu dari sisi kaligrafi sebagai suatu aksara yang menjadi simbol untuk penulisan huruf atau kata dan dari sisi keberadaannya sebagai hasil dan proses estetika.

Sebagai aksara untuk penulisan huruf, kaligrafi memiliki kaitan erat dengan alam pikiran dan sebagai hasil dan proses estetika, kaligrafi berkaitan erat dengan kondisi estetika yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kaitan ini dapat dijelaskan melalui pemahaman bahwa tulisan kaligrafi, sebagaimana tulisan pada umumnya, adalah suatu karya yang mampu menampung gagasan dari penulis atau pelukisnya. Dalam keadaan tersebut, kaligrafi berfungsi sebagai wahana untuk menyimpan, mengawetkan, serta mengungkapkan kembali gagasan dan pemikiran dari seseorang ataupun suatu komunitas tertentu.

Gagasan, pikiran, dan daya estetis yang mampu diungkapkan oleh kaligrafi itu mencakup aspek yang sangat luas dan hampir tak terbatas. Batasan daya tampungnya hanya ditentukan oleh keterbatasan yang terdapat pada pemikiran, gagasan, dan imajinasi itu. Dalam kondisi tersebut, kaligrafi memiliki kekuatan maksimal untuk tampil sebagai salah satu gejala kebudayaan yang representatif dan sangat membantu untuk menemukan bukan saja kecenderungan-kecenderungan yang terjadi dalam suatu kebudayaan, tetapi juga menemukan pertautan antara lingkungan kebudayaan yang satu terhadap yang lainnya.

Japanesse Caligraphy
Pesan dari Jepang:
Jalan Tuhan sangat dekat,
tetapi Manusia selalu Menjauh
Kenyataannya, kaligrafi memiliki lahan perkembangan yang sangat subur dalam setiap kebudayaan yang mempunyai aksara khusus seperti dalam lingkungan masyarakat di India, Jepang, Cina, Jawa, Arab, dan lain-lain. Sebagaimana ditemukan dalam peninggalan-peninggalan sejarah, terlihat hampir setiap aksara telah menerima usaha pengembangannya dalam bentuk kaligrafis. Hal ini dapat ditemukan pada prasasti yang menuliskan perjanjian ataupun mengungkapkan statement tertentu yang berkenaan dengan suatu kekuasaan. Ada pula kaligrafi yang dituliskan pada bangunan-bangunan suci dan tempat pertemuan umum, dan tidak jarang pula tulisan yang berbentuk kaligrafi ditemukan dalam fungsinya yang amat sakral, yaitu sebagai bagian dari mantera seperti tulisan huruf Manu dari Tibet, tulisan Kanji dari Jepang, atau yang lain.

Sebagaimana halnya dengan kaligrafi aksara lainnya, kaligrafi yang menggunakan huruf Arab telah mengemban fungsi kebudayaan dan religiusitas yang sangat luas. Oleh karena fungsi religiusitasnya yang sangat luas itulah ia seakan-akan tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan kebudayaan Arab. Keberadaan agama Islam yang menggunakan aksara Arab sebagai standar pokok tulisannya mendorong pula perkembangan dan persebaran kaligrafi yang menggunakan aksara Arab atau kaligrafi Arab sampai jauh.

Tiap-tiap tempat, secara kreatif, melakukan pula pengolahan sesuai dengan lingkungan pribumi yang bersangkutan sehingga variasinya menjadi semakin lebih kaya seperti aksara Taus yang dikaitkan dengan fantasi sufi Persia tentang burung merak, atau di Jawa ungkapan ketauhidan pada Al-Quran surat Al-Ikhlash (112): 1-4 dilukis dalam bentuk tokoh wayang Semar yang khas.

Javanesse Caligraphy
Wayang Semar: Al-Quran Surat Al-Ikhlash
Karena kaligrafi memiliki kaitan erat dengan suatu gagasan, sejak pengolahan kaligrafi Arab berada di tangan kaum muslimin, telah terjadi hubungan yang sangat erat antara aksara Arab dengan gagasan kaum muslimin. Hubungan ini lebih lanjut mengakibatkan seringkali terjadi pencampuran antara kaligrafi Arab dengan kaligrafi Islam. Annemarie Schimmel, peneliti tasawuf yang banyak mengkaji budaya Arab dan Persia klasik membuat batasan yang patut menjadi acuan. Menurutnya, apabila tulisan indah itu menampilkan ayat Al-Quran, Al-Hadits, ungkapan hikmah dan lain-lain yang merupakan ajaran Islam maka kaligrafi tersebut secara khusus dinamakan sebagai kaligrafi Islam.

Batasan ini membuka pada penjelasan lebih lanjut bahwa apabila kaligrafi tersebut tidak berkaitan dengan ajaran Islam, ia merupakan kaligrafi Arab biasa. Hal ini sejalan dengan definisi umum yang diberikan oleh Muhammad Sijelmessi dan Abdulkabir Khetibi bahwa kaligrafi Arab pada umumnya (termasuk kaligrafi Islami) ialah

“… an art which is conscious founded upon a code of geometric and decorative rules; an art which, in the patterns which it creates, implies a theory of language and of writing. This art starts off as part of the linguistic structure and institutes an alternative set of rules, derived from languages but dramatizing and duplicating it by transposing it in to visual tems.”

Batasan di atas sekaligus menggarisbawahi berbagai komponen kesenirupaan, kebahasaan, dan aktivitas mental yang terkait dalam pembuatan kaligrafi. Proses kreatif dengan memperketat pertimbangan linguistik serta memperhatikan aturan geometris dan dekoratif sebagaimana diungkapkan oleh Sijelmessi dan Khatibi di atas sangat tepat bila diterapkan dalam fungsinya sebagai unsur dekorasi dan media komunikasi. Akan tetapi, kaligrafi Arab mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan lebih luas dari sekedar unsur dekorasi dan media komunikasi karena, sebagaimana dikemukakan oleh pengamat senirupa, Dan Soewarjono, kaligrafi Arab sebagai karya seni rupa dapat mencapai harkatnya sebagai seni murni. Inilah potensi yang perlu diperhatikan lebih serius pada masa depan.
Selengkapnya

Tuesday, September 17, 2013

Ugly Fonts di External Display Non-Apple

0 comments

Cara Mengatasi Ugly Fonts di External Display Non-Apple

Mungkin Anda pernah mengalami masalah di perangkat display Mac, sehingga mengharuskan untuk menyambungkannya ke external display yang bukan keluaran Apple? Kurang lebih itulah jalan yang bisa ditempuh selain membawanya ke Service Center.

Berdasarkan pengalaman seorang rekan pengguna Mac Pro; ketika itu karena suatu sebab tiba-tiba display Apple-nya tidak bisa digunakan sehingga ia terpaksa membeli perangkat display baru yang kebetulan bermerk "Sams*ng SyncMaster 733NW".

Namun, masalah belum selesai sampai disitu. Saat pertama menyambungkan display baru tersebut ke Mac, ternyata ia menjumpai bahwa terdapat perbedaan yang nampak jelas terlihat di layar bahwa tampilan fonts tidak seperti biasanya; agak kabur, tidak tajam sehingga mirip seperti tampilan monitor di sistem operasi Windows ketika VGA Driver belum terinstall atau pengaturan Clear Type yang kurang sesuai.

Apple fonts smoothing problem antialiasing
Ilustrasi; Ugly Fonts di External Display non-Apple
Kondisi seperti itulah yang lazim disebut sebagai Ugly Fonts; dimana font antialiasing tidak tersetting dengan benar sehingga tampilan yang muncul tidak seperti yang diharapkan pengguna Mac pada umumnya.

Nah sobat badruzeus; berikut penulis mencoba mengatasi masalah tersebut dengan memanfaatkan aplikasi khas UNIX yang tentunya terdapat di Mac yaitu Terminal.

  • Pertama, kita jalankan aplikasi Terminal  yang terdapat di folder /Applications/Utilities. Atau melalui LaunchPAD untuk pengguna Mac OS X Lion 10.7.x keatas.
  • Kemudian, masukkan perintah berikut ini dan tekan Return ( Enter ) :

  • Lanjutkan dengan me-Log out sistem Mac, kemudian Log in kembali untuk melihat perubahannya.

Apakah hasilnya memuaskan? Jika tidak, maka jalankan lagi Terminal dan masukkan perintah di bawah ini untuk mengembalikannya seperti semula
(diikuti dengan Log out kemudian Log in sistem) :


Demikian tutorial singkat mengenai Cara Mengatasi Ugly Fonts di External Display Non-Apple. Semoga bermanfaat.
Selengkapnya

Tuesday, September 10, 2013

Cara Membuat Shortcut Kata Ulang di Microsoft Word 2010

3 comments

Cara Membuat Shortcut Kata Ulang di Microsoft Word 2010

Bahasa Indonesia selain merupakan bahasa termudah di dunia, tentunya juga memiliki keunikan dan tatanan yang berbeda dengan bahasa negara lain. Salah satunya adalah kata ulang. Namun, agak merepotkan apabila berulang kali dalam pengetikan makalah, skripsi atau tugas lainnya yang menggunakan Microsoft Word, pengguna harus mengetik kata yang sama sebanyak dua kali dengan menambahkan tanda " - " (dash) diantaranya.

Membuat Kata Ulang di Office Word
Image by www.freeimages.co.uk

Nah, jika sobat badruzeus ingin cara yang lebih mudah, berikut ini disajikan cara membuat Shortcut kata ulang di Microsoft Word dengan bantuan VBA (Visual Basic for Application) yang secara default terinstall bersama paket Office 2010 :
  • Jalankan aplikasi Microsoft Word 2010, dari Desktop maupun Start Menu. Tekan tombol Alt + F11 di keyboard untuk membuka aplikasi VBA.
  • (Sementara Word masih terbuka) Setelah terbuka, buat sebuah modul baru dengan cara: di area kiri atas jendela VBA; klik kanan menu Normal > Insert > Module.
Setting VBA Kata Ulang
VBA di Microsoft Office 2010 (Klik untuk Memperbesar)

  • Masukkan kode di atas ke dalam modul baru tersebut:
  • Kemudian simpan module tersebut dengan klik ikon Save di Toolbar, atau dengan menekan tombol Ctrl + S  di keyboard.
  • Keluar dari aplikasi VBA lalu kembali ke Microsoft Word.

Langkah selanjutnya adalah membuat shortcut kata ulang tersebut di Microsoft Word dengan cara :

Setting Macro di Word 2010 (Klik untuk Memperbesar)


  • Masuk ke menu File > Options. Di Word Option, masuk ke bagian Customize Ribbon lalu pilih Macros dari daftar Choose commands from.
  • Pilih "Normal.Module1.KataUlang" kemudian tekan tombol Customize di bagian Keyboard Shortcut.
  • (Di bagian Customize Keyboard inilah saatnya kita menentukan shortcut / kombinasi tombol yang apabila kita tekan akan langsung membentuk struktur kata ulang. Sebagai contoh, saya mengkombinasikan tombol Ctrl + Space dari keyboard). Pada bagian Categories, pilih Macros. Lalu, isikan Ctrl + Space di bagian Press new shortcut key dan akhiri dengan menekan tombol Assign di pojok kiri bawah.
  • Close opsi Customize Keyboard, pencet OK dari Word Options dan kembali ke aplikasi Microsoft Word.

Sekarang, di dokumen aktif Microsoft Word ketik salah satu kata ulang (sebagai contoh) "masing" lalu tekan tombol Ctrl + Space dari keyboard. Maka, secara otomatis kata "masing" menjadi "masing-masing".

Demikian tutorial singkat tentang Cara Membuat Shortcut Kata Ulang di Microsoft Word 2010. Semoga bermanfaat bagi Anda semua dan selamat mencoba. Tetap semangat.
Selengkapnya

Tuesday, September 3, 2013

Mengenal Adobe Photoshop

0 comments

Mengenal Adobe Photoshop

Apa itu Photoshop? Adobe Photoshop adalah perangkat lunak editor citra bitmap buatan Adobe Systems yang dikhususkan untuk pengeditan foto / gambar dan pembuatan efek. Perangkat lunak ini banyak digunakan oleh fotografer digital dan perusahaan iklan sehingga dianggap sebagai pemimpin pasar (market leader) untuk perangkat lunak pengolah gambar / foto. Versi keempat belas dari produk ini adalah Adobe Photoshop CC. (id/wiki)

Versi resmi dari Photoshop tersedia untuk platform Microsoft Windows dan Mac.

An Introduction to Adobe Photoshop
Original image by freerangestock.com

Tampilan Photoshop


Saat membuka aplikasi Photoshop untuk pertama kali, Anda akan dihadapkan tampilan seperti pada gambar berikut *) :

Photoshop Work Area
Tampilan Adobe Photoshop di Mac (Klik untuk Memperbesar)
 
Pada dasarnya, area kerja aplikasi Photoshop terdiri dari beberapa komponen, antara lain :

  1. Tools Panel : Berisi perkakas atau peralatan yang diperlukan untuk melakukan manipulasi gambar dan editing objek di Document Window. Bisa juga diakses dengan menggunakan Shortcut (tombol jalan pintas).
  2. Panels : Adalah kotak di area kanan yang memuat tab colors, adjustment, layers, dsb. (versi Photoshop terdahulu dikenal dengan sebutan Pallete). Tabs yang muncul dapat diakses melalui menu Window. Dapat juga ditarik keluar dari area kanan dengan men-drag tab keluar (undock).
  3. Option Bar : Baris yang memuat kustomasi atau pengaturan dari fungsi editing yang sedang kita kerjakan. Tampilan bar dapat berubah menyesuaikan fungsi yang digunakan.
  4. Document Window : Jendela yang menampilkan dokumen berupa objek, gambar dan apapun yang sedang kita  kerjakan.
  5. Document Tabs : Berupa kotak persegi panjang yang berfungsi sebagai pengendali Document Window. (menutup, memindah atau menggeser ke kiri-kanan, serta undock)
  6. Zoom Level : Menampilkan informasi seberapa besar / kecil dokumen yang tampil di area kerja Photoshop.
  7. dsb.

*) Menu Bar milik Photoshop dan aplikasi lain yang berjalan di Mac OS dikendalikan oleh sistem. 

Selengkapnya

Langkah Pengembangan Ide Kreatif

0 comments

Langkah Pengembangan Ide Kreatif

Tak bisa dipungkiri bahwa menciptakan ide yang kreatif bukanlah pekerjaan mudah. Karena proses ini harus melalui seluruh prosedur menuangkan ide tersebut yang bersumber dari otak desainer ke dalam hasil karya akhirnya.

Yang lebih sulit tentunya menjelaskan proses kreatifitas itu di hadapan klien atau manajer proyek, sehingga mereka bisa memahami betapa sulit dan menantangnya profesi sebagai seorang desainer grafis.


Original image by freerangestock.com

Hal tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang bagi seorang desainer grafis untuk berkreasi dengan ide yang orisinil dan kreatif, terutama apabila sobat badruzeus melalui beberapa tahapan berikut ini:


1. Belajar

Pembelajaran dan pemahaman yang mendalam tentang dasar-dasar desain yang ingin kita ciptakan adalah awal dimulainya pembentukan ide desain. Pembentukan ide desain dimulai dengan Pemikiran kreatif Anda harus didukung oleh dasar pengetahuan dan kebijaksanaan yang baik mengenai tren dan perkembangan desain. Meskipun ini bukan kondisi yang mutlak diperlukan untuk mencapai kreativitas, tetapi dengan latar belakang yang kuat dari lapangan, Anda akan memiliki gambaran bagaimana mengaplikasikan ide-ide kreatif Anda ke dalam bentuk nyata.


2. Latihan

Dalam sepak bola, seorang Christiano Ronaldo atau Lionel Messi tidaklah serta merta menjadi pemain bola terbaik dunia seperti saat ini. Mereka membutuhkan proses panjang dalam meningkatkan skill mereka mengolah si kulit bundar. Demikian juga dalam dunia desain; latihan penting untuk mempelajari bagaimana melakukan sesuatu dengan benar. Terlepas dari fakta bahwa sebagai desainer, kita merancang dengan tangan sendiri atau menggunakan beberapa perangkat lunak desain, kita harus sepenuhnya terlatih dalam mengoperasikan peralatan tersebut, sehingga tidak mengalami hambatan dalam proses kreatif untuk menghasilkan sebuah desain. Sebagai seorang desainer grafis, pelatihan sangat penting dalam efektif untuk menyelesaikan proyek desain Anda secara efektif.


3. Investigasi

Memperoleh informasi yang cukup mengenai client, termasuk bidang usahanya, jasa yang ditawarkannya, karakter perusahaannya, dan lainnya merupakan proses penting sebelum desainer mulai membayangkan sebuah ide. Kesalahan seorang desainer grafis yang terburuk adalah langsung melompat ke tahap merancang, karena sebenarnya tahap investigasi ini sangat penting untuk menghasilkan ide-ide yang faktual dan relevan. Dalam sebagian besar kasus, Anda akan mendapatkan informasi ini dari client saat ia menjelaskan desainer yang ia inginkan. Tetapi, jika client tidak memberikan informasi yang cukup, maka beban jatuh ke pundak sang desainer sendiri untuk melakukan penyelidikan penuh mengenai hal-hal yang relevan yang dibutuhkan dalam merancang sebuah desain.


4. Pencerahan

Ini merupakan tahap dimana sebuah gagasan kreatif muncul muncul di kepala Anda, yang dapat Anda manfaatkan untuk melengkapi rancangan desain. Pada tahap ini, ide itu tidak sepenuhnya menetas dan perlu “dierami” agar lebih matang. Sebaiknya, Anda mulai mencatat hal-hal kecil dan potongan-potongan pikiran yang mulai bermunculan, agar kemudian dapat disatukan menjadi sebuah rancangan yang utuh.


5. Ideasi

"Ideasi" sebagai akronim dari "Ide Kreatif + Generasi" adalah tahap dimana desainer grafis menghasilkan ide kreatif. Di sini, Anda dapat mulai menyaring potongan-potongan kecil kreativitas yang telah diperoleh pada tahap sebelumnya, dan mengubahnya menjadi sebuah ide desain grafis yang tepat. Proses ini melibatkan kemampuan menganalisa rancangan-rancangan yang mungkin menarik untuk dikerjakan, dan menghilangkannya satu per satu, sampai didapat sebuah ide kreatif yang terbaik.


6. Eksekusi

Satu tahapan lagi yang sangat krusial dan menentukan hasil akhir dari seluruh proses yang telah Anda lewati adalah eksekusi.

Salah satu kesalahpahaman umum dalam dunia desain grafis adalah bahwa, proses kreatif berakhir saat sebuah ide brilian tercetus. Padahal, tanpa pelaksanaan yang tepat, ide sejenius apapun akan gagal dan kerja keras desainer akan sia-sia. Karena itu, tahap eksekusi ini harus dijalankan dengan sangat baik.


Tahap ini melibatkan proses mengubah sketsa ke dalam format digital, menambahkan warna dan efek, serta menguji hasil akhir apabila diaplikasikan ke dalam beberapa media. Dan, setelah mendapat persetujuan akhir dari klien, maka barulah proses desain kreatif dapat dianggap selesai.
 

Memang tidak mudah bukan; dalam menelurkan sebuah ide yang brilian? Maka, jangan patah semangat jika ide brilian tak kunjung menetas dari benak Anda. Coba ditinjau ulang, apakah kita telah melewati semua tahap generasi ide dengan baik?

Semoga Tips tentang Langkah Pengembangan Ide Kreatif ini bermanfaat bagi sobat BadruZeus.


* Credit to www.graphicdesignblog.org
Selengkapnya